Sabtu, 12 Oktober 2013

Hemorroid?

Hemorrhoid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Plexus hemorrhoidalis tersebut merupakan jaringan normal yang terdapat pada semua orang yang berfungsi untuk mencegah inkontinensia flatus dan cairan.
Karena adanya suatu faktor pencetus, pleksus tersebut dapat mengalami pelebaran, inflamasi, bahkan perdarahan. Pelebaran ini berkaitan dengan peningkatan tekanan vena pada pleksus tersebut yang sering terjadi pada usia 50 tahun ke atas. Dimana pelebaran ini tidak diikuti dengan perubahan kondisi anatomi dari kanalis analis.
Kanalis analis merupakan bagian terbawah dari usus besar yang berfungsi untuk mengeluarkan feses. Secara anatomi, kanalis analis memiliki panjang kurang lebih 1,5 inci atau sekitar 4 cm, yang berjalan ke bawah dan belakang dari ampulla rekti sampai anus. Selain saat defekasi, dinding kanalis analis dipertahankan oleh musculus levator ani dan musculus sphincter ani supaya saling berdekatan.19 Mekanisme sphincter ani memiliki tiga unsur pembentuk yakni musculus sphincter ani externus, musculus sphincter ani internus, dan musculus puborectalis.

Menurut Villalba dan Abbas (2007), etiologi hemoroid sampai saat ini belum diketahui secara pasti, beberapa faktor pendukung yang terlibat diantaranya adalah:
a. Penuaan
b. Kehamilan
c. Hereditas
d. Konstipasi atau diare kronik
e. Penggunaan toilet yang berlama-lama
f. Posisi tubuh, misal duduk dalam waktu yang lama
g. Obesitas.
Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kongesti vaskular dan prolapsus mukosa (Schubert dkk, 2009). Selain itu dikatakan ada hubungan antara hemoroid dengan penyakit hati maupun konsumsi alkohol (Mc Kesson Health Solution LCC, 2004).

Diagnosa hemorrhoid dapat ditegakkan salah satunya dengan anoskopi. Anoskopi adalah pemeriksaan pada anus dan rektum dengan menggunakan sebuah spekulum. Pemeriksaan ini dapat menentukan letak dari hemorrhoid tersebut. Secara anoskopi, berdasarkan letaknya hemorrhoid terbagi atas :
a. Hemorrhoid eksterna
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis inferior yang timbul di sebelah luar musculus sphincter ani.
b. Hemorrhoid interna
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis superior dan media yang timbul di sebelah proksimal dari musculus sphincter ani.
Kedua jenis hemorrhoid ini sangat sering dijumpai dan terjadi pada sekitar 35% penduduk yang berusia di atas 25 tahun

Hemorrhoid eksterna diklasifikasikan sebagai bentuk akut dan kronis. Bentuk akut dapat berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus yang merupakan suatu hematoma. Bentuk ini sering terasa sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemorrhoid eksterna kronis atau skin tag biasanya merupakan sequele dari hematoma akut

Hemorrhoid interna dikelompokkan ke dalam 4 derajat, yakni:
a. Derajat I : bila terjadi pembesaran hemorrhoid yang tidak prolaps ke luar kanalis analis yang hanya dapat dilihat dengan anorektoskop.
b. Derajat II : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dan menghilang
atau dapat masuk kembali ke dalam anus secara
spontan.
c. Derajat III : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dimana harus dibantu dengan dorongan jari untuk memasukkannya kembali ke dalam anus.
d. Derajat IV : prolaps hemorrhoid yang yang permanen. Prolaps ini rentan dan cenderung mengalami trombosis dan infark.

Penatalaksanaan Hemorrhoid 

 Pada penderita hemorrhoid dapat ditangani dengan 2 (dua) macam penatalaksanaan, yaitu penatalaksanaan farmakologis dan penatalaksanaan bedah. Kedua macam penatalaksanaan tersebut memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing.
a. Penatalaksanaan medis
Nonfarmakologis
Penatalaksanaan ini bertujuan untuk mencegah semakin memburuknya hemorrhoid dengan cara memperbaiki defekasi. Penatalaksanaan ini berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, perbaikan pola/cara defekasi. Memperbaiki defekasi merupakan pengobatan yang harus selalu ada dalam setiap bentuk dan derajat hemorrhoid.
Perbaikan defekasi disebut Bowel Management Program (BMP) yang terdiri dari diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku buang air. Bersamaan dengan program BMP tersebut di atas, biasanya juga dilakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air sehingga eksudat atau sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan.

Farmakologis
Penatalaksanaan farmakologis bertujuan untuk memperbaiki defekasi sekaligus meredakan atau menghilangkan keluhan serta gejala. Obat-obat farmakologis hemorrhoid dapat dibagi atas:
 Memperbaiki defekasi
 Meredakan keluhan subyektif
 Menghentikan perdarahan
 Menekan atau mencegah timbulnya gejala
 Tindakan medis minimal invasive

Tindakan untuk menghentikan atau memperlambat semakin memburuknya penyakit dengan tindakan-tindakan pengobatan yang tidak terlalu invasive, antara lain :
 Skleroterapi
Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam minyak nabati. Terapi ini efektif untuk hemorrhoid derajat I dan II.
 Ligasi dengan gelang karet
Penatalaksanaan ini digunakan pada hemorrhoid yang besar atau mengalami prolaps. Penempatan gelang karet ini cukup jauh dari garis mukokutan untuk menghindari timbulnya nyeri yang merupakan penyulit pada penatalaksanaan jenis ini.

b. Penatalaksanaan bedah
Tindakan ini terdiri dari dua tahap yaitu pertama yang bertujuan untuk menghentikan atau memperlambat perburukan penyakit dan kedua untuk mengangkat jaringan yang sudah lanjut.
 Bedah beku
Teknik ini menggunakan pendinginan dengan suhu yang rendah, namun dapat menyebabkan kematian mukosa yang sukar ditentukan. Sehingga teknik ini hanya cocok digunakan sebagai terapi paliatif karsinoma rektum.
 Hemoroidektomi
Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun, penderita hemorrhoid derajat III dan IV, penderita dengan perdarahan berulang, dan anemia yang tidak sembuh dengan terapi sederhana lainnya.

Faktor risiko hemorrhoid antara lain:
a. Kurangnya konsumsi makanan berserat
Serat makanan yang tinggi mampu mencegah dan mengobati konstipasi apabila diiringi dengan peningkatan intake cairan yang cukup setiap hari. Konsumsi cairan dapat membantu kerja serat makanan dalam tubuh. Suatu studi meta-analisis di Barcelona menyimpulkan bahwa kebiasaan mengonsumsi serat akan menurunkan gejala dan perdarahan pada hemorrhoid.
b. Konstipasi
Konstipasi berarti pelannya pergerakan tinja melalui usus besar yang disebabkan oleh tinja yang kering dan keras pada colon descenden yang menumpuk karena absorpsi cairan yang berlebihan.18 Pada konstipasi diperlukan waktu mengejan yang lebih lama. Tekanan yang keras saat mengejan dapat mengakibatkan trauma berlebihan pada plexus hemorrhoidalis sehingga menyebabkan hemorrhoid.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada pasien hemorrhoid di RS Bakti Wira Tamtama Semarang tahun 2008 mengambil kesimpulan bahwa konstipasi merupakan faktor risiko dari hemorrhoid (p<0,0001 dengan nilai OR=3,093; CI=3,09-5,00).
c. Usia
Pada usia tua terjadi degenerasi dari jaringan-jaringan tubuh, otot sphincter pun juga menjadi tipis dan atonis. Karena sphincternya lemah maka dapat timbul prolaps. Selain itu pada usia tua juga sering terjadi sembelit yang dikarenakan penyerapan air yang berlebihan pada saluran cerna. Hal tersebut menyebabkan konsistensi tinja menjadi keras. Sehingga terjadi penekanan berlebihan pada plexus hemorrhoidalis yang dipicu oeh proses mengejan untuk mengeluarkan tinja.10,16
Pada tahun 2009, sebuah penelitian pada pasien hemorrhoid usia 16-80 tahun di Park Klinik Berlin mengambil kesimpulan bahwa faktor usia di atas 46 tahun (OR=3,824; CI=1,468-9,961; p=0,006) memiliki risiko tinggi terhadap kejadian hemorrhoid. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian pada penderita hemorrhoid di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010 yang menunjukkan bahwa insiden tertinggi kasus hemorrhoid terjadi pada usia 45 tahun dengan prosentase sebesar 43,4% dari 83 sampel yang diteliti.12,16
d. Keturunan
Adanya kelemahan dinding vena di daerah anorektal yang didapat sejak lahir akan memudahkan terjadinya hemorrhoid setelah mendapat paparan tambahan seperti mengejan terlalu kuat atau terlalu lama, konstipasi, dan lain-lain. Dalam suatu penelitian dengan subjek pria dan wanita usia >40 tahun di Semarang tahun 2007 menunjukkan bahwa riwayat hemorrhoid dalam keluarga merupakan faktor risiko hemorrhoid (PR=2,5; CI=1,460-4,253; p<0,05).
Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian pada penderita hemorrhoid di RS. Bakti Wira Tamtama Semarang pada tahun 2008. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keturunan merupakan faktor risiko dari hemorrhoid (OR:5,17; CI:4,06-6,61; p<0,0001). 8,9
e. Tumor abdomen
Tumor abdomen yang memiliki pengaruh besar terhadap kejadian hemorrhoid adalah tumor di daerah pelvis seperti tumor ovarium, tumor rektal, dan lain-lain.
Tumor ini dapat menekan vena sehingga alirannya terganggu dan menyebabkan pelebaran plexus hemorrhoidalis. Penelitian dengan subjek pria dan wanita usia > 40 tahun di Semarang tahun 2007 menunjukkan bahwa tumor (RP= 2,5; CI= 1,460-4,253; p=0,05) merupakan faktor risiko dari kejadian hemorrhoid.
f. Pola buang air besar yang salah
Pemakaian jamban duduk juga dapat meningkatkan insidensi hemorrhoid. Menurut dr. Eka Ginanjar, dengan pemakaian jamban yang duduk posisi usus dan anus tidak dalam posisi tegak. Sehingga akan menyebabkan tekanan dan gesekan pada vena di daerah rektum dan anus. Berbeda halnya pada penggunaan jamban jongkok. Posisi jongkok saat defekasi dapat mencegah terjadinya konstipasi yang secara tidak langsung dapat mencegah terjadinya hemorrhoid. Hal tersebut dikarenakan pada posisi jongkok, valvula ilicaecal yang terletak antara usus kecil dan caecum dapat menutup secara sempurna sehingga tekanan dalam colon cukup untuk mengeluarkan feses.
Selain itu menghindari kebiasaan untuk menunda ke jamban ketika sudah dirasa ingin buang air besar juga dapat menurunkan kejadian konstipasi. Namun sebuah studi pada tahun 2007 di RSUP Dr. Kariadi Semarang mengambil satu kesimpulan, bahwa posisi saat buang air besar bukan merupakan faktor resiko dari kejadian hemorrhoid (PR=1,2; CI=0,672-2,144; p=0,05)

sumber :
LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
BIFIRDA ULIMA
http://eprints.undip.ac.id/37425/1/Bifirda_Ulima,_G2A008038,_LAP.pdf


0 komentar:

Posting Komentar